Bagaimana Bersikap Pada Anak

by -22 views
bagaimana mendampingin anak belajar

Memiliki dua orang saudara, membuat saya sudah terbiasa dengan persaingan. Seperti tempat tidur siapa yang paling rapi, siapa yang makannya habis, sepatu siapa yang paling rajin dibersihkan dan masih banyak lagi. Persaingan yang memang memacu untuk lebih tertib dan disiplin, untungnya saya dan saudara tidak mempersalahkan dengan hal-hal yang seperti itu, memang menjadi lebih disiplin, melakukan semuanya secara sadar dan selalu ingin menjadi yang terbaik, hingga akhirnya terbawa

Persaingan bisa menjadi dua sisi, menjadi beban atau menjadikan seseorang tersebut lebih baik. Sebenarnya anak kecil sama saja dengan orang dewasa, mereka hanya bertubuh kecil aja. Anak kecil memiliki emosi yang kompleks seperti orang dewasa. Ada hal-hal yang membuat tak nyaman. Contoh kecilnya, ketika persaingan menjadi beban, pernah dibanding-bandingkan dengan anak tetangga. Kalau sudah terjadi, beneran sebal, karena merasa orangtua tidak tahu apa-apa tentang anak tetangga. Tidak lebih baik dari saya, biasa saja, seperti teman-teman lainnya yang tidak semua mata pelajaran bisa dikuasai.

Bagaimana bersikap pada anak

Dibanding-bandingkan membuat saya jengkel, khususnya sebel banget sama anak tetangga yang sekaligus merupakan teman sekelas, padahal ya dianya biasa aja, sama seperti teman sekelas lainnya, tapi ya karena dibanding-bandingkan jadi jengkel aja. Sekarang kalau dipikir, bikin ketawa aja sih. Sekarang tidak ada yang namanya jengkel, malah bersahabat. Mungkin dulu cemburu buta aja, timbul rasa iri. Lambat laun, orangtua saya juga tidak menggunakan pembanding lagi untuk memotivasi.

Anak merupakan pribadi yang utuh.

Kisah lalu tidak membuat saya sebel sama orangtua, bahkan saya berpikir betapa susahnya jadi orangtua. Setiap niat baik, apapun yang dilakukan orangtua dengan landasan “untuk kebaikan anak”, kadang anak berpikir lain, dikira terlalu mengekang, tidak pernah puas dengan usaha anak, dll. Belum lagi cara mendidik anak pada tahun 90’an sangat berbeda dengan cara mendidik anak yang lahir pada tahun 2000’an.

Menjadi orangtua tidak akan pernah berhenti belajar untuk mengasuh anak. Sering juga membaca pelbagai buku, kuliah daring, dan semacamnya. Saya menemukan hal yang menarik, entah dari siapa saya ungkapan ini ;

Anak bukanlah perpanjangan cita-cita orangtua yang belum tercapai. Anak merupakan pribadi utuh, memiliki emosi, memiliki hak termasuk hak memilih dan berpendapat.

Saya juga sering mendengar orangtua saya berbicara dengan kakak saya mengenai anak-anak, salah satunya seperti ini ;

Tugas orangtua adalah memberikan jaminan pendidikan, kesehatan, dan rasa aman, anak buku robot yang harus dikendalikan tapi diberikan contoh dan diarahkan. Kalau sudah diarahkan, keputusan tetap ada di tangan anak.

Kata-kata tersebut terlontar ketika dilema memutuskan untuk sekolah di mana, Sekolah Negeri, Sekolah Swasta atau Pondok Pesantren.

Memberikan contoh kepada anak.

Anak-anak belajar dengan cara meniru, role mode anak-anak ya orangtuanya. Apa yang dilakukan orangtua pasti dicontoh oleh anak. Orangtua nggak suka sayur, jangan harap anak-anak suka sayur juga. Pernah ikut seminar parenting mengenai golden age, usia tersebut berada pada perkembangan terbaik untuk pertumbuhan maupun perkembangan anak, mulai dari usia kandungan sudah terjadi golden age, maka dari itu selain memberikan nutrisi yang dibutuhkan, perlu untuk memperhatikan perkembangan anak secara emosional.

Pernah kan diberikan nasihat oleh orangtua terdahulu, jangan berteriak, marah-marah di depan anak, nanti ditiru. Jika orangtua suka marah-marah, timbul pemahanan jika marah merupakan kebiasaan dan hal biasa karena anak mendapatkan contoh dari orangtua. Jika orangtua sering memaki, berkata kotor, anakpun akan mencontohnya.

Berikan hal-hal baik kepada anak sejak dini, seperti memeluk sebagai ekspresi kasih sayang, mengucapkan terimakasih, minta maaf, tersenyum dan hal baik lainnya. Jika anak ingin gemar membaca, tanamkan kebiasaan membaca sejak dini, bisa dimulai dengan mendongeng untuk anak, dan membeli buku atau majalah bergambar yang disesuaikan dengan tingkatan umur.

Orangtua tak luput dari kesalahan.

Sebagai anak, maunya didengar pendapatnya, sementara orangtua inginnya dipatuhi kata-katanya. Nggak selamanya anak melakukan kesalahan, begitu juga dengan orangtua, nggak selamanya benar. Keduanya bisa saling belajar, berkomunikasi dengan baik.

Bagaimana jika orangtua berbuat kesalahan? Posisikan diri sebagai anak, yang meminta maaf dengan tulus dan berjanji untuk berubah lebih baik. Memang terdengar canggung, tapi mengakui kesalahan akan memberikan pelajaran beharga bagi kedua belakah pihak. Bukan menyangkalnya, membuat bermacam alasan membela diri, apalagi jika berlindung pada kata-kata, “Saya lebih tua dari kamu, kamu tahu apa?”

Selamanya belajar menjadi orangtua

Selamanya belajar menjadi orangtua, meskipun anak yang dimiliki telah menikah. menjadi orangtua tak sekadar saat ia masih sekolah, bahkan setiap tingkatannya pola asuhpun berubah. Pola asuh saat anak-anak-anak masih Sekolah Dasar akan berbeda dengan cara mengasuh ketika buah hati telah tumbuh menjadi seorang gadis atau jejaka. Bersikap pada anak tak ada bedanya ketika kita bersikap pada lawa bicara yang seumuran, setiap anak memiliki isi kepala yang berbeda dengan orangtua, memiliki pemikiran yang kadang kala berbeda dengan orangtua.

Orangtua tidak ada sekolahnya, tapi setiap hari kita belajar sesuatu ketika berinteraksi dengan buah hati. Sedih, senang, masa sulit-sulit akan selalu menemukan saat-saat seperti itu. Menjaga komunikasi dan beri kepercayaan pada anak, semoga menjadi keluarga yang dipenuhi dengan cinta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *