Bagaimana Cara Mendidik Remaja

by -23 views
bagaimana cara mendidik anak remaja

Usia remaja merupakan usia peralihan dari fase anak-anak dan belum menuju usia dewasa. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja merupakan penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Sedangkan menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun.

Seseorang dikatakan remaja, memiliki tanggung jawab lebih daripada ketika ia masih anak-anak, lantas bagaimana cara mendidik remaja? Meskipun saya belum menjadi orang tua, tapi saya tetaplah seorang anak dari kedua orang tua saya. Meliha tingkah laku diri sendiri saat masih remaja, bikin terheran-heran. Sebenarnya, dulu apa sih yang ada di kepala saya?

Saat masih berseragam putih-biru, saya merasa seperti mampu menakhlukan dunia, seriusan deh! Masa remaja ini berasa udah dewasa, butuh pengakuan kalau saya sudah besar, mandiri, punya pendapat sendiri yang harus didengar, antusias dengan hal-hal baru, maunya mengerjakan segala sesuatu tanpa bantuan orang tua, ingin dianggap seseorang yang bisa diandalkan.

Kadang, timbul sika yang sering membantah omongan orang tua. Jika bisa membela diri, bukan membantah, dulu seringnya beradu argumen. Kenapa teman boleh melakukan sesuatu sedangkan saya tidak? Ya seputar itu, mengapa tidak boleh, mengapa harus begini, semuanya harus ada alasan yang logis bagi saya, kalau ada yang tidak pas di hati, langsung deh mengeluarkan pendapat meskipun terdengar ngotot.

Fase remaja, fase pencarian jati diri. Mencari role model di luar sana, kadang lebih nurut orang lain (terutama teman) ketimbang orang tua. Karena saya sendiri juga heran dengan sikap saya dahulu kala. Saya mecoba mencari referensi bagaimana cara mendidik remaja.

 

 

Cara mendidik remaja.

Pada laman web Sahabat Keluarga (web yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) membina hubungan yang dekat dengan remaja yaitu memosisikan diri (orang tua) sebagai temannya. Lantas, teman yang seperti apa untuk memahami perkembangan remaja? Berikut cara mendidik remaja :

Memberikan kesempatan anak untuk menentukan pilihan.

Jika biasanya orang tua yang memilih tujuan liburan keluarga, berikan anak kesempatan untuk memilih tujuan liburan, dengan cara seperti itu memberikan dampak positif bagi anak yang merasa jika pendapatnya didengar oleh orang tua mereka. Memberikan kesempatan seperti ini, perlahan-lahan anak akan terbuka, kemudian ajak ngobrol santai seperti bagaimana kegiatan di sekolah, apa yang membuatnya senang saat di sekolah, dan lain sebaginya.

Mendengarkan bukan menghakimi.

Dunia remaja merupakan dunia yang penuh eksplorasi hal-hal yang anak-anak belum ketahui. Mungkin di rumah ada hal-hal yang tidak boleh dibahas, tapi saat anak berada di luar rumah, segala informasi dapat ia temui dengan mudah. Posisikan sebagai teman dan siap untuk membimbingnya tanpa ada penghakiman. Misalnya saja, masa remaja sudah timbul rasa suka dengan lawan jenis, ada bagian tubuh dari mereka yang tumbuh. Berikan pemahaman yang mudah dicerna untuk usia mereka.

Semakin dilarang, semakin penasaran. Ada yang akrab dengan kalimat tersebut? Seperti itulah remaja, dulu saya juga sering penasaran dengan segala hal. Pacaran itu apa, kenapa datang bulan, rasanya ditindik itu gimana, rokok rasanya gimana, ada saja yang terlintas di benak. Meskipun ada hal yang dianggap tabu dalam suatu keluarga. Mending anak tersebut mendapatkan pemahaman dari orang tua daripada coba-coba atau cari sendiri dari orang lain.

Komunikasi.

Dalam hubungan antara 2 orang, seperti orang tua dan anak, komunikasi itu penting. Penting untuk membentuk hubungan yang akrab antara anak dan orang tuanya. Susah susah gampang, tapi jangan menyerah untuk berkomunikasi dimulai dari obrolan santai.

Mengapa anak takut curhat pada orang tuanya sendiri? Karena di dalam keluarga tersebut tidak ada diskusi dalam 2 arah, si anak takut dengan reaksi orang tua jika membahas hal yang dianggap tabu. Kemudian diam dan disimpan sendiri, atau akhirnya malu jika nanti ngobrol, malah orang tua curiga pada si anak.

Orang tua memang harus aktif dengan dunia si anak, hal apa yang sedang ngetrend di kalangan remaja. Misalnya saja ngetrend video challenge, ikutan juga bareng bikin video challenge yang berfaedah, arah dia ke hal yang bermanfaat, siapa tahu ada bakat terpendam. Karena sekarang lapangan pekerjaan tidak hanya kantoran saja, banyak lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang kreatif.

Memberikan ruang untuk anak.

Perubahan sikap anak-anak ke remaja bisa dilihat dari kebiasaan, seperti mulai timbul rasa malu. Biasanya berangkat sekolah cium pipi kanan dan kiri, beranjak remaja mulai malu untuk melakukan hal tersebut, atau perubahan lainnya.

Berikan privacy untuk anak agar ia diperlakukan layaknya seperti orang dewasa. Mengetuk pintu kamar anak sebelum masuk, memberikan waktu untuk ia sendiri, ataupun dengan teman-temannya. Jika ada permasalahan, tak perlu mendesaknya untuk berbicara saat itu juga, berikan waktu dan yakinkan ia jika orang tuanya akan ada di sisinya dan siap untuk membantu permasalahannya.

Membuat janji.

Untuk mengenalkan tanggung jawab kepada anak, bisa membuat janji yang bisa disepakati. Seperti membuat tanggung jawab untuk membereskan kamar, mencuci baju sendiri dan semacamnya, sebagai imbalan bisa memberikan waktu bermain gadget lebih lama saat akhir pekan, semacam itu. Dengan memberikan tanggung jawab berarti dia merasakan ada hal yang harus ia penuhi sebagai kewajiban kemudian ia akan mendapatkan haknya.

Orang tua juga harus menjadi contoh yang baik untuk anak. Jika ada perjanjian harus makan sayur setiap hari, orang tua juga memberi contoh jika makan sayur adalah kebiasaan baik. Bukan menyuruh anak

2 thoughts on “Bagaimana Cara Mendidik Remaja

  1. Memberikan ruang privasi pada anak. Ini agak tricky sih sebenarnya menurutku. Mmg sudah waktunya bagi remaja, tp juga butuh pengawasan juga ya. Jgn sampai ruang privasi tadi malah disalahgunakan

  2. NOted banget nih, sebenarnya hal-hal demikian di atas tuh udah sering banget saya baca, tapi dalam praktiknya, seringnya saya lupa dong *plak 😀

    Makanya, kalau sering baca-baca hal begini, semacam diingatkan kembali, bahwa anak juga manusia.
    Terutama kalau anak udah hampir remaja kayak anak pertama saya.
    Sejujurnya yang kudu banyak bersiap itu ya saya sebagai ibunya, menyiapkan mental, di mana perubahan anak bakalan banyak banget.

    Intinya memang bagaimana caranya saya bisa jadi sahabat baik dari anak, dengan menghormati pilihannya, selalu setia jadi pendengarnya, dan kasih ruang buat anak, biar dia merasa kalau hidupnya ya juga miliknya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *